Words represent us. We can tell others by words. We can express our voices by words. We communicate by words. We develop life with words. We can show who we are by words. Words make our culture. Word is life.
Tampilkan postingan dengan label education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label education. Tampilkan semua postingan
Minggu, 02 November 2008
What our Education Offers
Laskar Pelangi (novel by Andrea Hirata and the movie based on the novel) made us aware about how important education is. But, what kind of education, or especially, wha kind of school? If we look at our education development, we get a really big question.
What does our education offer? It became a big question lately.
In psychology, there are two part of our brain that processed and developed by education.
Left brain, that works the intellegent, sintethic abilities, and linear. The right brain, that works the emotions, and analythical abilities.
Nowadays, everyone realize how important to make them balance, so it begins that many voices demand the personality development part in our education or curriculum. With that big number of people that realize that, logically, our educations directed to that purpose. Really? It seems that it still far away from that purpose. We can judge our education by seeing the product of the education, the educated and schooled people, the scholars, or the graduated students.
I see, there are three big groups of the 'educated people', that become the biggest part of the product of our educations.
The First group contains the people that have strong left brains, but weak right brains. They usually allienated from the community, and spend most of their time with papers and tools. They almost have no sense of humor and art, and usually, in this country, have little money. They almost no contribution in the civilization development, because, although they has the technology, they weak in initiatives about the people development.
The Second group contains the people that have strong right brain, but too weak left brains. They good in socializing. I describe them by 'always associating only, but really dumb'. They are always the activists that always involve in many activities in campus or community, talk all night. Almost no one of them become the leader or decision maker, because they cannot think, because of their weak brains. They always busy, but no idea. They almost have no contribution too, in the civilization development, because they just easy going but no direction.
The third group contains the people that weak on both parts of their brains, a.k have no brain. This is the worst group. They, since they in the scool or college, usually only care about the fashion, associating in small groups (gank), and very loyal trend follower, trend by artist, celebrities or boys & girls in the other part of the world. They not only have no contribution in the developing people, but the disturb it. They are the scum of society. In school, they have no idea about what they are learning. In the community or society, they have no positif activity that usefull for the society. They just follow, follow, and follow. Sprayed by pesticide is the best for them.
Out of that three groups, there is a group that contains small amount off people that have the strong brains, in both parts, or at lease, get the equilibrium. They are the contributor of the social development, civilization development. But, because of the small number, our country has slow development......
So, what does our education offer?
Selasa, 21 Oktober 2008
Laskar Pelangi
Heboh Laskar Pelangi belum lagi pudar. Kita seolah disentakkan dengan kesadaran "baru" bahwa pendidikan itu penting. Orang-orang menjadi semakin paham tentang konstitusi, terutama pasal 31 UUD 45, yang mereka jadikan landasan hukum untuk menuntut pemerintah.Kita dihajar berturut-turut dengan dua kali ledakan Laskar Pelangi. Yang pertama adalah ledakan bukunya yang sekarang dijuluki sebagai "The Indonesian Most Powerful Book". Menurut saya, kekuatan utama buku itu bukanlah pada cerita maupun kualitas sastranya. Buku itu memang sangat ringan dan enak dibaca sehingga menyenangkan bagi pembacanya. Tetapi kalau dilihat dari pengaturan isi novel, plot setting, pengaturan klimaks dan anti klimaks, buku itu jelas masih kalah dibandingkan banyak buku lain yang terbit pada masa ini. Susunan buku itu kurang memperhatikan kaidah-kaidah umum dalam penyusunan novel, yang bagi kebanyakan novel kontemporer memang tidak terlalu penting, tapi tetap masih ada.Pada saat saya membacanya, terus terang mula-mula saya dipusingkan dengan menyusun mozaik alur kejadian dalam novel yang acak kadut itu. Tapi saya bisa bertahan membacanya. Saya cukup terhibur dengan cara bercerita Andrea yang jenaka, menantang dan "mengacu pada banyak referensi".Jika melihat pada tema cerita, sebenarnya tema-tema "klise" semacam itu banyak sudah banyak ditampilkan oleh para novelis maupun pembuat film kita. Kedahsyatannya, mungkin masih tidak sebanding dengan kuliah-kuliah terakhir Profesor Morrie dalam "Tuesdays with Morrie" atau kisah hidup "seuntai kode genetik" dalam Middlesex. Saya sering kali menganggap tema-tema semacam itu, tema yang mengangkat perjuangan kaum miskin untuk menjadi sukses, sebagai cerita-cerita klise yang melangit, yang seolah hanya mungkin dalam cerita, bukan di kehidupan nyata.Tapi justru di situlah kekuatan buku ini. Cerita melangit itu ternyat based on true story. Pembacanya menjadi terseret dalam area nyata yang disebut Belitong itu.Sentakan itu diikuti dengan heboh film Laskar Pelangi. Ini wajar, karena ribuan orang, atau bahkan jutaan, terimbas euforia novel Laskar Pelangi, penasaran dengan bentuk filmisnya, walaupun tidak bisa diingkari kalau film itu memang bagus, baik tampilan maupun temanya, di antara timbunan film Indonesia yang kebanyakan mengacu pada humor murahan, horor dan sex.Sukses ini mirip dengan Ayat-Ayat Cinta, yang sedikit membuat saya kecewa dengan hasil filmnya. Saya memang tidak mengharapkan mendapat cerita yang sama dengan yang saya baca dalam novel, karena itu akan menjadikan menonton film itu percuma saja, mendingan kita baca novelnya dan bayangkan sendiri tiap kejadiannya. Yang mengecewakan saya adalah adanya perubahan muatan dakwah dan nilai yang ditampilkan dalam film itu.Misalnya saja, saat Aisha berbicara dengan staff kedutaan untuk membicarakan masalah kebebasan suaminya, ia diam saja saat diejek 'Anda baru mengenalnya tiga minggu dan mau menikahinya?'. Ini seakan meremehkan konsep taaruf dalam Islam dan mengkampanyekan 'pacaran model anak gaul sekarang'. Juga penggambaran sosok fahri yang terlalu lemah sebagai laki-laki (tidak tegas dan tidak adil saat ia lebih banyak mengurusi istri barunya). Dan tentu saja buntutnya adalah pemberian label 'buruk sekali' terhadap konsep poligami.Kembali ke Laskar Pelangi, saya salut sekali pada Andrea Hirata, dan semua komponen yang telah membantunya mengkampanyekan idenya tentang pentingnya pendidikan yang benar ini kepada masyarakat luas, penerbit, editor, pembuat film, sopir, dan semuanya, apapun motivasinya.Sekarang kita hanya bisa berharap agar sentakan kuat Laskar Pelangi ini bukan sekedar gelegar petir yang menyambar keras, kemudian selesai, atau berlanjut sekali-sekali. Tapi menjadi alat kejut jantung yang sukses mengaktifkan kembali jantung pendidikan kita. Amin....
Apa yang ditawarkan Pendidikan Kita
Laskar Pelangi itu menyadarkan kita akan pentingnya pendidikan. Tapi pendidikan, atau lebih khususnya, sekolah yang seperti apa? Kalau kita melihat perkembangan dunia pendidikan kita, kita patut bertanya.Apa yang sebenarnya ditawarkan pendidikan kita? itu menjadi pertanyaan besar, paling tidak bagi saya, akhir-akhir ini.Menurut ilmu psikologi, ada dua bagian otak yang diolah dan dikembangkan, salah satunya dengan pendidikan. Ada otak kiri, yang mendominasi area inteljensi, kemampuan sintetis, linier. Ada otak kanan yang mendominasi area emosional, kemampuan analisis.Sekarang ini, sudah hampir semua orang menyadari pentingnya keseimbangan antara keduanya, sehingga sudah mulai banyak suara yang menginginkan adanya bagian pengembangan kepribadian (otak kanan) dalam kurikulum kita. Dengan banyaknya orang yang sadar itu, logikanya, pendidikan (=kurikulum) kita sudah mengarah ke sana. Benarkah? Sepertinya masih jauh panggang dari api.Kita bisa melihat hasil pendidikan itu dari dunia pendidikan itu sendiri, atau indikator paling jelas adalah hasil pendidikan itu, orang-orang terdidik, para lulusan sekolah atau para sarjana kita.Saya melihat, ada tiga golongan paling besar dari 'orang-orang terdidik' itu yang sangat banyak jumlahnya di negara ini.Golongan pertama adalah orang-orang yang kuat otak kirinya, lemah otak kanannya. Orang ini biasanya kurang banyak bergaul, dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kertas dan alat peraga. Orang-orang ini hampir tidak punya selera humor, kalaupun ada bercandanya harus pakai otak, tidak berseni, dan salah satu ciri tambahan di negara kita, biasanya miskin. Sebab gaji peneliti di negara ini memang belum sebesar para praktisi. Orang-orang ini kurang bisa berperan dalam perkembangan peradaban, sekalipun mereka adalah penguasa teknologi, karena mereka selain kurang bergaul juga susah mengambil inisiatif, dan keputusan serta kurang kreatif tentang hal yang berkaitan dengan urusan perkembangan masyarakat.Golongan kedua adalah orang yang kuat otak kanannya, lemah otak kirinya. Orang ini saya gambarkan sebagai orang-orang yang 'gaul melulu tapi dongoknya minta ampyun'. Mereka ini biasanya adalah para aktifis yang mengikuti berbagai kegiatan di kampus atau masyarakat, dalam bidang apa pun, sebagian rajin kalau disuruh begadang. Hampir tidak ada di antara mereka yang menjadi pimpinan atau pengambil keputusan (meskipun mereka ini aktifis hebat) karena otaknya yang lemot itu. Orang-orang ini juga kurang berperan dalam perkembangan peradaban, karena mereka 'loncat kanan kiri tanpa beban dan arah'. Sibuk tapi tanpa isi.Golongan terakhir adalah orang yang lemah otak kanan kirinya, alias tidak punya otak. Ini yang paling payah. Mereka ini biasanya, sejak masa sekolah dan kuliahnya, sudah disibukkan dengan urusan mode, gaul dalam kelompok-kelompok kecil alias 'genk', setia meng-update gaya sesuai artis atau meniru gaya anak-anak seusianya di belahan dada, eh, dunia yang lain. Mereka ini kalau sekolah tidak pernah tahu apa yang sedang dipelajari, di masyarakatnya atau di kampusnya juga tidak terlibat dalam aktifitas apa pun. Mereka ini hanya meniru, meniru, meniru dan yang penting senang. Golongan ini bukan sekedar tidak berperan dalam perkembangan peradaban, tapi menjadi penghambat, alias sampah masyarakat. Mereka sangat tidak pantas bahkan untuk menjadi penjahat sekalipun. Disemprot obat anti hama adalah perlakuan yang paling tepat untuk mereka.Di luar ketiga golongan besar tadi, ada sekelompok kecil orang yang kuat kedua sisi otaknya, atau paling tidak kekuatannya berimbang sesuai takaran. Orang-orang inilah yang mempengaruhi dan mengembangkan peradaban negeri kita. Tapi karena jumlahnya sedikit, ya, negara kita lambat pertumbuhannya.....
Labels:
education
Senin, 18 Agustus 2008
Percepatan Pendewasaan (Sinetron 2)
Berita-berita yang ditayangkan di televisi menunjukkan betapa zaman terus berubah, semakin cepat. Mungkin ini akibat lingkaran timbal balik manusia dan sistem yang dibuatnya. Orang membuat sistem, sistem mempengaruhi orang, dst.
Percepatan itu didukung oleh adanya peristiwa-peristiwa yang memberi pengaruh besar. Demokrasi, globalisasi, informasi dan si-si yang lain, memudahkan orang-orang untuk saling menilai, meniru, berubah.
Dan itu ternyata membawa pengaruh yang luar biasa pada kepribadian dan pendewasaan.
Sepertinya di masa lalu, aksi-aksi--terutama yang melibatkan massa, demonstrasi, kegiatan politik--menjadi dominasi para aktifis dan mahasiswa. Kemudian diikuti dengan demonstrasi murid-murid SMU yang mempertanyakan kebijakan pendidikan. Waktu berlalu, para ABA (Anak Baru ABG) yang duduk di bangku SMP berdemonstrasi memprotes kebijakan biaya sekolah dan penggunaan dana BOS. Semakin hari makin banyak anak SD yang berdemo karena merasa tidak nyaman bersekolah, sekolahnya disegel, atau sekedar dijewer kepala sekolahnya. Inilah keistimewaan perkembangan zaman, sepertinya setiap orang makin tahu hak-haknya dan makin berani memperjuangkannya.
Pertentangan biasanya muncul dari "golongan tua" yang merasa dikurangajari. Orang-orang yang merasa lebh berpengalaman ini merasa yakin "golongan muda" sedang melesat menuju kerusakannya sendiri. Mungkin ini benar. Protes-protes itu, dari kedua golongan, biasanya ditunggangi kepentingan karena merasa teraniaya hak-haknya. Semua orang menuntut hak, bagaimana dengan kewajiban?
Media massa bisa menjadi salah satu sarana yang menjembatani kepentingan-kepentingan ini. Sepertinya media kita sangat fokus pada upaya-upaya pendidikan dan percepatan pendewasaan.
Sinetron, sebagai salah satu tontonan yang paling banyak ditonton, menyajikan tema-tema yang sama untuk level umur yang makin lama makin turun. Dulu, cerita cinta ditampilkan dengan tokoh-rokoh orang dewasa, pekerja, eksekutif, pembantu dan sebagainya. Kemudian para "Romi dan Yuli" ini berubah menjadi orang-orang berseragam SMU.
Sinetron itu berlatar sebuah sekolah, tapi hampir tak ada kegiatan sekolah, belajar, atau yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Temanya masih berkutat di pacaran, rebutan pacar, dan persaingan dalam pesta dansa. (Apa untuk pacaran saja, butuh seragam?) Kemudian seragam itu berubah menjadi seragam biru putih SMP, dan makin turun menjadi anak SD yang berpacaran. Bahkan yang terakhir, ada anak-anak balita yang masih didorong dalam kereta bayi pacaran juga, pake baju pengantin pula.
Mungkin di masa depan ada anak yang baru lahir langsung mimpi basah, begitu melek, sudah bisa berpikir, "Ngeceng di mana, nih?". Ada pula yang begitu bisa membaca "ini Budi" sudah berpikir untuk terjun ke dunia politik atau yang baru bisa berhitung 1-2-3 sudah memikirkan "Jualan apa, nih?".
Anak-anak Indonesia menjadi peniru yang luar biasa. Sinetron itu yang jadi panutan.
Kita semua dipaksa sadar kalau keadaan di luar sana berubah teramat cepat. Pertanyaannya, apakah kita sudah siap dengan segala perubahan itu, apa kita siap berubah?
Kebanyakan dari kita ingin mengikuti perkembangan, mengikuti perubahan, berubah. Setiap orang ingin lebih makmur, pintar, sukses, kaya dan mengalami segala 'pemuasan'. Tapi masih banyak juga yang tidak siap dengan perubahan. Ada orang ingin kaya, tiba-tiba kaya, malah bingung, shock, stress, dan terlena. Ada yang merasa telah mendapatkan ilmu, merasa sangat hebat dan memasang kacamata kuda, tak sanggup melihat sekitar, dan tidak tahu mau apa dengan kepandaiannya itu. Ada yang baru mengalami mimpi basah, langsung berpikir mencari "sarung keris".
Sepertinya, masih dalam momen ulang tahun kemerdekaan ini, ada satu ungkapan yang harus selalu kita dengungkan di pikiran kita. "SIAP, GRAKKK...!!"
Labels:
education
Rabu, 13 Agustus 2008
Twister, Behind the Scene
Musim bencana di Indonesia semakin variatif dan kreatif. Beberapa hari yang lalu terjadi kejadian alam yang lagi-lagi bikin panik, angin puting beliung. Kejadian yang di Jogja, pas kebetulan aku ga di sana, keliatan ngeri juga di tipi. Atap stasiun jadi kayak bajunya Komeng pas habis naik Jupiter. Itun-itungan lagi dah.
Tapi sepertinya kita tidak perlu membahas terlalu banyak tentang beberapa kejadian ini. Sudah banyak media kita yang cukup responsif dan kagetan, yang dengan segera akan membahasnya, mulai dari proses kejadian secara ilmiah, total kerugian, sikap pemda, dan masih banyak lagi tinjauan secara ipoleksosbudhankam. Lagipula, pembicaraan yang berlebihan mungkin berakibat buruk secara psikologis buat yang mengalami. Sebagian dari mereka mungkin akan menjadi terlalu manja, merasa diperhatikan, bahkan sebagian akan merasa bahwa momen bencana adalah kesempatan untuk dapat bantuan. Sebagian dari sodara-sodara yang membantu memang benar-benar ikhlas dan tidak mempermasalahkan itu.
Ada satu hikmah besar yang ada dibalik kejadian angin berputar itu, palling tidak menurut saya. Kenapa angin berputar itu sampai sekarang disebut dengan "puting beliung" atau dalam bahasa kerennhya "axe nipple wind". Padahal setahu saya, beliung itu ngga ada putingnya, yang ada putingnya itu kan mammalia, (bukan mama lia, lho... ;p). Setahuku tuh, ini jenis hewan yang ada (.)(.) nya.Mungkin orang yang menamai seperti itu, pada saat pertama kali mengalami pusaran angin, dia berteriak, "aduh, puting, kayak dilempar beliung. Orang ini berteriak begitu sebenarnya bukan karena terlalu panik, tapi karena dia memang baru bisa baca-tulis. Dia belum begitu hafal dengan urutan abjad a-z. Jadi, waktu dia mengeja, huruf yang seharusnya "s" itu meleset satu huruf di urutan abjad sesudahnya. Tapi memang mungkin masyarakat kita belum terlalu pandai dan masih latah, kesalahan itu masih terjadi sampai sekarang. Jadi ini hikmah yang mungkin bisa kita ambil, mari kita sukseskan semua usaha untuk pemberantasan BADAN (buta aksara danKita angka).
Kita berharap agar kita tidak asal memberi nama sesuatu dengan nama yang terlalu lucu, atau bahkan saru. Terlebih lagi di jaman yang serba nanotechnology ini, yang mungkin berkembang menjadi piccotechnology nantinya, kita tidak serba ketinggalan, tidak bingung lagi. Kalo nanti warung-warung seafood di Jepang sudah mampu membuat nasi goreng plankton, kita juga sudah bisa membuat semur sellulosa atau soto amoeba. Atau minimal kita ngga panik lagi kalo dikejar angin puting gergaji, serem mana coba gergaji sama beliung.Semoga sedikit hipotesis sederhana ini dapat ditelaah dan ditindaklanjut oleh departemen-departemen yang berwenang, demi kemajuan kita bersama, sampai ajal memisahkan kita.... walah opo maneh tho iki, puting aku..
Labels:
education
Sinetron
Ada masanya televisi kita dijejali dengan sinetron-sinetron bergenre "Aku Hamil". Sinetron-sinetron genre ini biasanya dimulai dengan cerita seorang gadis yang mendatangi ayah, ibu atau kerabatnya yang lain, kemudian ia berkata "Akyu hamil". Kemudian disusul dengan sedikit adegan-adegan selingan berupa pertengkaran, kemarahan, tangisan berjamaah, pengusiran dan sejenisnya.
Selanjutnya cerita pun dimulai.
Ada banyak variasi cerita dalam genre ini. Bisa menjadi cerita perjuangan calon ibu mempertahankan kehamilannya-karena tak mau menggugurkan, sendirian karena pejantannya tak mau bertanggung jawab, kemudian menjadi seorang ibu yang mungkin terlalu muda untuk membesarkan anaknya sendiri. Tanpa suami, dibuang keluarga. Kasihan, bukan?
Pada akhirnya ibu muda single parent tadi menjadi makmur, kaya entah bagaimana caranya dan berhasil membesarkan anaknya dengan sukses dan lancar. Atau bisa juga ibu muda tadi menemukan seorang pengusaha sukses yang mau menerima ia dan anaknya. Mereka menikah dan bahagia hingga akhir sinetron.
Bisa juga cerita tentang si bayi yang berjuang sendiri menjadi besar, karena sang ibu juga ogah bertanggung jawab. Si anak berjuang sendiri memperjuangkan hidupnya yang sendiri, sepi dan keras. Tapi akhirnya ia berjaya juga.
Masih banyak variasi ceritanya. Cerita itu bisa berkembang menjadi kisah perseteruan dua orang yang ternyata bersaudara, pembunuhan, incest, dan sebagainya. Tapi yang pasti, kebanyakan cerita itu berakhir bahagia.
Genre ini, kebanyakan penggemarnya adalah ibu-ibu. Menurut beliau-beliau itu, selain jalan cerita dan penyajiannya yang menyentuh perasaan, juga mengandung banyak pesan moral. Katanya, cerita-cerita itu banyak mengandung pesan, tentang kesabaran, ketabahan, bahwa Tuhan akan selalu menolong hamba yang menderita dan sabar, dan masih banyak lagi.
Menurutku, ada satu pesan terpenting yang disampaikan cerita-cerita itu: 'zina itu tonggak kesuksesan dan kebahagiaan'.
Entah apa yang ada dalam kepala orang-orang yang membuat sinetron macam ini. Mungkin kepalanya itu adalah scrotum yang salah posisi tumbuhnya. Mereka berusaha menyampaikan pesan tentang pentingnya tanggung jawab dengan cara-cara yang tidak bertanggung jawab.
Kemudian genre lain-menyesuaikan dengan keadaan-mulai muncul, membangkitkan selera pasar, yang diikuti dengan menjamurnya genre yang sama. Begitu seterusnya sehingga muncul banyak genre lain yang mempengaruhi dan terpengaruh pasar. Ada sinetron religi, yang ditandai dengan banyaknya adegan orang sembahyang, mengumbar bahasa Arab, tokoh-tokoh yang berkerudung, berbaju gamis, kemana-mana mengurut untaian tasbih. Kemudian ada sinetron komedi, yang menyajikan apa pun asal penonton tertawa, sinetron berseragam, yang banyak menampilkan ABA (Anak Baru ABG) dan sebagainya.
Tapi kalau diamati, variasi tema utama yang disampaikan oleh beragam sinetron itu tidak seberagam genrenya. Tema-tema itu berkisar pada keluarga (perselisihan tak kunjung usai), cinta (a.k. pacaran dan rebutan pacar), seks dan mistis yang membodohkan.
Kebanyakan sinetron itu menjadi iklan mimpi. Para pembuatnya benar-benar brilian, telah menembak tepat pada kebutuhan pasar. Kita semua sedang butuh mimpi. Sayangnya, mimpi yang ditawarkan itu adalah mimpi basah di siang bolong di tengah gurun di musim panas. Melemahkan. Para pembuatnya semakin giat dan gencar membuat, karena memang laku.
Ibu-ibu, yang menjadi mayoritas penggemar sinetron, adalah punggawa rumah tangga, perdana menteri urusan rumah yang seringkali menentukan "nonton apa kita sekarang?". Maka hampir pasti semua orang ikut menontonnya. Maaf, tidak ada maksud menyalahkan para ibu.
Sinetron ada di tv, tv adalah salah satu ikon peradaban. Peradaban terdiri dari manusia dan sistem yang saling mempengaruhi. Orang membuat tv, tv mempengaruhi orang, orang mengembangkan tv, semakin mempengaruhi orang....... dan seterusnya. Lingkaran setan. mengapa setan yang disalahkan?
Mungkin tidak ada yang perlu disalahkan, atas kekhilafan dan ketidaksadaran. Bahkan mungkin kita tidak perlu membesarkan dan mempertanyakan apa ada yang salah. Hanya saja, kita mestinya sadar, kalau sebenarnya TERSANJUNG itu cukup satu.
Labels:
education
Langganan:
Komentar (Atom)